Louis Van Loon

By   07/01/2016

Louis Van LoonDi Eropa terutama di Belgia dan Belanda, olah raga merpati pos sangatlah populer. Pada musim lomba setiap minggu ratusan bahkan ribuan merpati diterbangkan. Harus dipahami juga bahwa mayoritas pemainnya adalah kelas pekerja yang notabene adalah warga biasa. Tapi kelas pekerja ini harus bersaing dengan para pemain profesional.

Jelas kelas pekerja ini tidak memiliki uang berlebih untuk mempekerjakan manejer kandang, melepas ratusan atau ribuan ekor merpati, apalagi untuk membeli “Golden Breeder” yang berharga fantastis. Untuk dapat bersaing pada lomba secara keseluruhan mereka harus melakukan seleksi yang baik, berdedikasi dan percaya diri.

Ini latar belakang yang membuat kisah Louis Van Loon menarik dan terlihat kehebatannya. Dia adalah pekerja keras sepanjang hidupnya. Seperti manusia biasa lainya, dia bersama sang istri membesarkan ketiga anaknya, seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Dia menafkahi keluarganya dari bekerja sebagai supir truk pada sebuah pabrik lokal. Saat dia terjun dalam olah raga merpati pos pun dia menyadari bahwa dia akan berhadapan dengan kandang-kandang besar dari pemilik yang kaya raya, yang reputasinya mentereng dan sikap arogan mereka.

Semasa kanak-kanak saat masih sekolah Louis Van Loon sudah tertarik dengan merpati pos. Rasanya bukan sesuatu yang aneh, karena dia dibesarkan pada lingkungan di mana merpati pos sudah menjadi dari bagian budaya hidup keluarganya. Ayahnya sendiri adalah pemain merpati pos, juga para paman dan para keponakannya. Pada setiap acara keluarga topik obrolannya selalu “lomba merpati pos”. Pelajaran demi pelajaran yang didengannya selalu diserapnya. Louis pun pernah coba berlomba dengan nama ayahnya.

Kemudian mulailah Louis Van Loon memulai rumah tangganya sendiri. Dimasa inilah proses kreasi trah Van Loon mulai terbentuk. Berbasis dari burung-burung sang ayah, yang sebenarnya berasal dari kandang-kandang ternama. Pada masa awal membangun rumah tangga, bukanlah masa-masa yang mudah baginya. Dia harus bekerja keras sepanjang hari, dari pagi hingga petang. Seperti umumnya para pekerja, sisa waktunya hanya sedikit sekali. Lantas bagaimana dia mengurus merpatinya ? Dengan kecintaan dan dedikasi jawabnya. Dia menyempatkan mengurus merpatinya saat jam istirahat dan malam hari sepulang kerja. Wujud totalitas yang luar biasa, 365 hari pertahun !

Louis Van Loon seorang kaum pekerja dari desa Poppel yang menggentarkan dunia merpati pos saat itu. Pada jarak menengah hasil lombanya tak terbantahkan pada awal tahun-tahun kehadirannya. Menjadi sosok yang meneror pemain lain, begitu ditakuti dan disegani. Sampai-sampai dimusuhi dan diperangi. Hingga akhirnya Van Loon dijatuhi hukuman scorsing tidak boleh mengikuti lomba jarak menengah. Van Loon diijinkan lomba jika mau menandatangani surat pernyataan yang isinya bahwa dia bersedia tidak menang pada lomba total pos jarak menengah. Dengan sabar dan rendah hati dia menuruti permintaan tersebut. Dia hanya berkomentar pendek,”Saya yang salah… Saya terlalu baik dalam memainkan burung yang sudah baik.”

Louis Van Loon bukan sosok yang suka popularitas. Sering kali dia mengusir wartawan dari media masa yang ingin meliputnya. Dia hanya ingin dibiarkan sendiri bersama keluarga dan merpatinya. Dia tidak pernah membusungkan dada dengan hasil lomba yang pernah dicapainya. Tidak juga membangga-banggakan burung-burung hebatnya. Dia juga tidak pernah beriklan dan tidak pernah menjual burungnya. Pernah ada yang tanya,”Pak Louis di media masa ada iklan orang jual burung dan katanya ‘burung terbaik Van Loon’. Apakah benar ?” Dia hanya menjawab dengan senyuman dan berkata,”Selagi saya masih hidup dan aktif berlomba, tidak akan pernah keluar burung terbaik dari kandang saya….”

Louis Van Loon hidup sederhana bersahaja, rendah hati dan jujur apa adanya…

Disadur oleh Mas Nino dari:
The Miracle Man from Poppel (By Tony Rossi)

One Comment on “Louis Van Loon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *